LAPORAN KEWIRAUSAHAAN
USAHA JAMU KUNYIT KELUARGA
Dosen
Penanggungjawab:
Agus
Purwoko, S.Hut., M.Si.
Oleh:
Irma Amelia
191201088
HUT 2 D
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan
Maha Esa, karena berkat kasih dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini dimaksudkan sebagai syarat untuk dapat memenuhi komponen penilaian mata kuliah
Kewirausahaan, Program Studi Kehutanan
,Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Medan
Penulis
mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggungjawab mata kuliah
Kewirausahaan Dr. Agus
Purwoko, S.Hut., M.Si. karena telah
memberikan materi dengan baik dan benar. Penulis juga berterima kasih
kepada asisten yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama penulis
mengikuti kegiatan pembelajaran ini.
Penulis menyadari itu makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik dari
berbagai pihak dalam upaya untuk memperbaiki isi makalah ini akan sangat
penulis hargai. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca yang
membacanya .
Medan, Juni 2020
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut
Saiman (2009), Kewirausahaan (entrepreneur) merupakan persoalan penting di
dalam perekonomian suatu bangsa yang sedang berkembang. Kemajuan atau
kemunduran ekonomi suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberadaan dan peranan
dari kelompok wirausahawan ini. Tidak ada satu bangsa di dunia ini yang mampu
menjadi negara maju tanpa ditopang oleh sejumlah pemuda dan masyarakat yang
berwirausaha.
Menurut
Yuyun (2003), di negara-negara maju baik di Benua Eropa maupun Amerika Serikat,
setiap sepuluh menit lahir wirausahawan baru. Pertumbuhan wirausaha ini membawa
peningkatan perekonomian yang luar biasa bagi suatu negara, sehingga semakin
banyak suatu negara memiliki wirausaha maka semakin meningkat perekonomiannya.
Menurut Effendy (2010)
, budaya kewirausahaan yang tumbuh secara alami dalam suatu keluarga atau
kelompok masyarakat Indonesia merupakan suatu aset yang sangat berharga bagi
bangsa Indonesia. Dinamika perekonomian bangsa yang bertumpu pada pertumbuhan
budaya kewirausahaan tradisional ini, perlu diberikan motivasi dalam suatu
kegiatan pendidikan khususnya di perguruan tinggi secara umum, program
pengembangan kewirausahaan dengan memberikan motivasi di Perguruan Tinggi
dilaksanakan untuk menumbuhkembangkan budaya kewirausahaan di lingkungan perguruan
tinggi untuk mendorong terciptanya entrepreneur baru dengan menerapkan ilmu
yang dipelajari dalam berwirausaha.
Menurut David (1996),
karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha memenuhi syarat –
syarat keunggulan bersaing bagi suatu perusahaan atau organisasi, seperti
inovatif, kreatif, adaptif, dinamik, kemampuan berintegrasi, kemampuan
mengambil resiko dari keputusan yang dibuat, integritas, daya juang, dan kode
etik niscaya mewujudkan efektivitas.
Menurut Suryana (2006),
seorang wirausahawan harus mengembangkan usahanya untuk keberhasilan dan kemajuan
usahanya agar lebih baik. Seorang wirausahawan yang ingin mengembangkan
usahanya harus menerapkan langkah –
langkah berikut, yaitu : kenali kompetitor, memperluas jaringan, tingkatkan
sumber daya, utamakan pelayanan konsumen, lakukan inovasi produk, minimalisasi biaya
operasional, investasi, dan mengatur keuangan dengan baik.
Dalam beberapa bulan ini, virus
corona sedang mewabah tak hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia.
Kondisi tersebut memaksa semua orang harus diam di rumah mengisolasi diri agar
terhindar dari virus. Dengan adanya hal tersebut membuat aktivitas menjadi
terhambat. Pandemi ini menuntut orang untuk beradaptasi secara cepat
dengan pola kerja baru. Misalnya para pekerja harus merubah kegiatannya
menjadi Work From Home (WFH), mahasiswa dan anak sekolah pun harus
belajar secara online. Walaupun banyak kegiatan yang harus berjalan
secara tidak biasa, namun kita masih bisa mengambil hikmah dari kejadian ini
dengan mengambil peluang usaha. Dan kegiatan wirausaha harus tetap berjalan.
Dan di masa inilah, karakter sebagai wirausaha harus dipraktekkan demi
keberlanjutan bisnis atau usaha yang dijalankan.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana profil usaha narasumber ?
2.
Apa saja prestasi dari narasumber ?
3.
Bagaimana pendekatann kreatif yang dilakukan
narasumber dalam menghadapi wabah Covid – 19 ?
1.3 Tujuan
Tujuan
dari pembuatan laporan ini adalah agar pembaca atau mahasiswa dapat mengetahui
bagaimana profil usaha dari narasumber, mengetahui kiat sukses dan teknik yang
digunakan narassumber dalam menjalankan usahanya serta mengetahui apa saja
inovasi yang dilakukann narasumber dalam menjalankan usahanya di masa pandemik
Covid – 19 ini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Profil Usaha Narasumber
Usaha
Jamu Kunyit Keluarga ini didirikan oleh Ibu Siti Aminah pada tahun 2010. Dan
sekarang sudah memasuki tahun ke 10. Usaha ini dijalankan di rumah milik Ibu
Siti Aminah sendiri yang berlokasi di Desa Hutadangka, Ke. Kotanopan, Kab.
Mandailing Natal, Sumatera Utara. Usaha Jamu Kunyit Keluarga ini didirikian Ibu
Siti Aminah sebagai summber matapencahariannya, untuk menambah penghasilan
keluarga. Dalam menjalankan usahanya ini, bu Siti Aminah dibantu oleh kakaknya
sendiri. Usaha pembuatan Jamu Kunyit ini masi bertahan sampai saat ini,
mengingat kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar meminum jamu, karena jamu
memiliki banyak manfaat, sebagai obat dan penambah stamina.
Gambar.1 Ibu Aiti Aminah (Narasumber 1)
Jamu
merupakan salah satu warisan bangsa, bukan hanya dari konsep obat atau
kesehatan, tetapi juga budaya. Budaya minum jamu ini masih terpelihara di
Indonesia. Hal ini terlihat dari beberapa pemberitaan di media masa, yang
memuat upaya-upaya pemerintah untuk menggalakan minum jamu. penduduk Indonesia
telah memanfaatkan kesehatan tradisional dan 49% diantaranya menggunakan ramuan
jamu. Jamu juga memiliki omset penjualan yang cukup tinggi dan jumlah pelaku
usahanya banyak. Hal inilah yang menjadi acuan ibu Siti Aminah dalam
menjalankan usaha pembuatan jamu kunyit miliknya ini dan ditambah dengan
kemampuannya sendiri yang memang lihai dalam hal ini.
Modal
awal dalam pembuatan jamu kunyit ini terbilang sangat terjangkau, karena jamu
buatan ibu Siti Aminah ini masih menggunakan cara tradisional, yaitu dengan
memakai lesung untuk menghaluskan kunyit, dan juga menggunakan botol bekas
sirup yang telah di cuci bersih sebagai kemasan jamu. Jadi, dalam membuka
usahanya ini bu Siti Aminah tidak menemukan hambatan sama sekali. Namun, dari
penuturan beliau, dalam menjalankan usahanya ini, kesulitan yang paling sering
ditemui adalah dalam menyiapkan kunyit untuk pembuatan jamu. Terkadang suplayer
kunyit tidak dapat menyediakan jumlah kunyit yang diminta. Bahkan, terkadang
beliau tidak membuat jamu karena tidak adanya kunyit yang bisa dibeli dari
suplayer.
Dalam
produksinya sendiri, bu Siti Aminah melakukan produksi di setiap jum’at sore.
Dan akan di pasarkan pada hari sabtu paginya. Dan dalam sekali produksi, ada
sekitar 200 – 300 botol jamu yang dibuat. Proses dalam pembuatan jamu sendiri
ada beberapa tahap, yaitu : Pertama – tama kita harus menyiapkan semua alat dan
bahan yang diperlukan. Bahannya adalah : Kunyit, lengkuas, jahe, gula, dan air.
Alat yang digunakan : lesung, saringan, botol kemas dan ember. Selanjutnya,
kunyit, jahe, dan lengkuas di haluskan dengan menggunakan lesung tadi. Setelah
itu, peras bahan yang telah dihaluskan dengan air, lalu saring dan tambahkan
gula dan di aduk rata. Selanjutnya bisa langsung di kemas. Dan siap utuk di
pasarkan.
Dalam
pengemasannya, ada 2 jenis botol. Botol dengan ukuran 285 ml dijual dengan
harga Rp.5.000 sedangkan untuk botol dengan ukuran 600 ml dijual dengan harga
Rp.8000. Dan pemasaran produk jamu kunyit Ibu Siti Aminah ini, sudah hampir
menyebar di seluruh desa yang ada di Kecamatan Kotanopan. Dan sudah memiliki
pelanggan tetap. Dan Ibu Siti Aminah memasarkan sendiri produknya. Dan dalam
pemasarannya, tidak ada ditemui kesulitan, mengingat masyarakat pedesaan yang
masih gemar minum jamu.
Usaha Jamu Kunyit yang didirikan oleh Ibu Siti Amiah ini sampai saat ini belom memikili prestasi khusus, mengingat lokasi dari usaha ini yang berada di desa. Namun, sudah banyak yang mengakui jamu buatan belia sangat bagus khasiatnya. Sehingga tidak heran jika usaha beliau bisa bertahan sampai sekarang. Apalagi di era modern seperti sekarang ini, yang kebanyakan sudah menggunaakan mesin – mesin canggih. Tapi, dengan kerja keras beliau, usaha ini masih tetap bertahan sampai sekarang.
Adapun
kiat sukses dalam menjalankan usaha jamu kunyit ini, beliau menuturkan bahwa :
Pertama yang paling penting adalah adanya motivasi, dengan motivasi ingin
membantu perekonomian keluarga dan melestarikan budaya minum jamu seperti
anjuran pemerintah, bu Siti Aminah mampu menjalankan usaha ini. Kedua, perlunya
rasa percayadiri, karena kesuksesan berawal dari kepercayaan dan punya tekad
untuk memajukan usaha yang kita jalankan. Ketiga yaitu dengan selalu menjaga
mutu dan kebersihan produk, agar konsumen mendapatkan kepuasan tersendri atas
produk jamu yang dipasarkan. Dan yang keempat, yaitu dengan selalu bersifat
sopan dan ramah terhadap para pelanggan. Seperti dari penuturan beliau “Tamu
adalah Raja, jadi dalam jual beli Pelanggan adalah Raja”.
2.3
Uraian Teknik Dan Pendekatan Kreatif dalam Menghadapi Covid – 19
Teknik yang digunakan
dalam menjalankan usaha ini adalah menggunakan sistem buat, kemas, dan
pasarkan. Jamu yang telah dikemas sudah bisa langsung dipasarkan. Dalam
pemasarannya, beliau belum menggunakan sistem online mengingat belum semua
masyarakat desa dapat menggunakan aplikasi online untuk memesan jamu. Dan
biasanya produk jamu ini hanya akan bertahan 1 – 2 hari pada suhu ruang.
Pada masa
pandemik Covid – 19 ini, bu Siti Aminah mencoba berinovasi dengan membuat produk
tambahan berupa jus buah sehat untuk menambah produk usahanya. Namun, pemasukan
yang di dapat masih tetap menurun dari biasanya, dikarenakan Ibu Siti Aminah
hanya memasarkan produknya di desanya saja, tanpa memasarkan ke luar desa
karena adanya larangan bepergian. Dan tingkat produksi juga menurun dari 300 an
botol, namun semenjak adanya wabah covid – 19 ini, beliau hanya memproduksi 200
an botol jamu dan beberapa botol jus buah. Ini terjadi karena sulitnya
pemasaran. Jadi, dengan adanya wabah corona ini, sangat berdampak pada
penghasilan dan usaha Ibu Siti Aminah.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.
Usaha Jamu Kunyit Keluarga ini didirikan
oleh Ibu Siti Aminah pada tahun dibantu oleh kakak kandung beliau sendiri
2.
Motivasi Ibu Siti Aminah dalam
menjalankan usaha ini selain untuk membantu perekonomian keluarga adalah bahwa
jamu merupakan salah satu warisan bangsa, bukan hanya dari konsep obat atau
kesehatan, tetapi juga budaya.
3.
Usaha Jamu Kunyit milik Ibu Siti Aminah
ini dalam melakukan produksi masih dengan menggunakan cara tradisional
4.
Usaha Jamu Kunyit ini belum pernah
mendapat sertifikat atau prestasi khusus mengingat lokasi usaha yang berada di
perkampungan dan belum mempunyai jaringan yang luas
5.
Inovasi yang dilakukan oleh Ibu Siti
Aminah dengan adanya pandemi covid ini adalah dengan menambah varian produk
yang dipasarkan
6.
Untuk menjadi seorang wirausaha yang
sukses, kita perlu punya otivasi, rasa
percaya diri, punya tekad, dan berani mengambil resiko atas keputusan yang kita
buat
3.2 Saran
Sebaiknya,
dalam menjalankan suatu usaha, kita harus memiliki motivasi yang membuat kita
selalu bersemangat untuk mencapai tujuan kita dan senantiasa berani atas resiko dari keputusan yang kita ambil.
DAFTAR PUSTAKA
David, Mc. Clelland. 1997. Management Sumber Daya Manusia. Jakarta : Prenhallindo.
Effendy, Mochtar. 2010. Kewirausahaan (Entrepreneurship) Tuntunan Untuk Praktisi. Palembang
: Yayasan Penerbit Al-Mukhtar..
Kuratko & Hoodgets. 2007. Dalam Heru Kristanto.
2009. Kewirausahaan (entrepreneurship)
Pendekatan Manajemen dan praktik. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Saiman, Leonardus. 2009. Kewirausahaan: Teori, Praktik, dan Kasus-kasus. Jakarta: Penerbit
Salemba Empat.
Suryana, 2006. Kewirausahaan
Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses. Jakarta : Penerbit Salemba.
Yuyun Wirasasmita. 2003. Komunikasi Bisnis. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.